header-photo

Curahan Seorang Tunas

Di sebuah desa, dimana desa tersebut sudah mengalami kemajuan dan sudah tidak tepat lagi apabila disebut desa. Karena kebanyakan dari mereka ialah para pekerja bukan petani, ada yang bekerja sebagai PNS, buruh bangunan, Swasta, serta lain sebagainya. Alamnya masih cukup indah, masih banyak pohon-pohon yang rindang serta Nampak hijau. Kerukunan masyarakatnya pun masih sangat baik dan terjaga hingga kini, masih saling bertegur sapa serta masih saling menghormati.
Disitulah aku tinggal bersama kedua orang tuaku serta satu adiku. Kedua orang tuaku adalah seorang petani, meski sawah yang kami miliki tidak cukup lebar namun paling tidak dari sawah itulah kami dapat makan nasi setiap hari meskipun lauknya hanya ala kadarnya. Namun tetap saja kusyukuri semua karunia itu. Karunia yang telah diberikan Alloh kepada aku. Karena aku yakin masih banyak orang yang hidup jauh kekurangan daripada keluarga kami.
Sedari kecil aku bukanlah anak yang pandai, melainkan aku hanyalah anak penakut yang tidak punya nyali. Hingga pada suatu hari aku tersadar dan aku mencoba untuk lebih baik. Pencarian jati diri ku mulai pada saat aku duduk di bangku SMP saat itu aku masuk SMP yang ada di dekat desa aku.
Dahulu aku punya keinginan untuk menjadi pemain sepakbola terkenal, mungkin enak rasanya bisa keliling Indonesia atau bahkan keliling dunia, serta dikenal oleh banyak orang. Namun itu hanyalah impian pada kenyataannya aku tidak dapat sedikitpun bermain bola, entah kenapa meski dorongan dalam diri sangat kuat untuk menjadi pemain sepak bola namun ada ganjalan yang membuaku menjadi minder. Kemudian kuurungkan niatku untuk menjadi pemain sepak bola, kemudian aku punya keinginan lain yang sama-sama dalam hal olahraga, yaitu ingin menjadi pemain bulu tangkis terkenal seperti Taufik Hidayat (idolaku waktu kecil dulu). Pada saat itu aku mencoba untk merubah mainset atau pikiranku pada diriku sendiri, bahwa aku punya kemampuan serta kemauan. Namun tetap saja aku tidak bisa menghilangkan sikap minderku kepada orang lain. Hingga pada akhirnya aku tidak mau lagi memikirkan hal itu dan aku memutuskan untuk mengalir bagaikan air seperti orang yang tidak punya harapan serta pegangan dalam menjalani hidup ini. Begitulah aku, itulah sekilas tentang hidupku yang kujalani hingga kini.

0 komentar:

Posting Komentar